, ,

FUAD dan BPNB Berkolaborasi Menyelenggarakan Dialog Budaya Nasional

Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado bekerjasama dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara, baru saja menghelat Dialog Budaya Nasional dengan tema ” Merajut Ke-Bhineka Tunggal Ika-an Dalam Bingkai Keharmonisan” di Aula Rektorat IAIN Manado pada tanggal 6 – 8 September 2019. Dialog ini dihadiri oleh pejabat dari IAIN Manado dan BPNB serta…

By.

min read

Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado bekerjasama dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara, baru saja menghelat Dialog Budaya Nasional dengan tema ” Merajut Ke-Bhineka Tunggal Ika-an Dalam Bingkai Keharmonisan” di Aula Rektorat IAIN Manado pada tanggal 6 – 8 September 2019. Dialog ini dihadiri oleh pejabat dari IAIN Manado dan BPNB serta banyak tokoh dan pemerhati budaya dari seluruh Indonesia. Total jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 100 peserta.

Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado selaku “tuan rumah”, melalui sambutan Dekan bapak Dr.Edi Gunawan,M.HI dalam acara pembukaan kegiatan ini, menyambut dengan penuh antusias atas kepercayaan yang diberikan oleh  BPNB terhadap FUAD dan IAIN Manado sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Dekan juga mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung hingga kegiatan ini berjalan dengan lancar.

kegiatan dialog terbagi dalam beberpa sesi. Pada sesi pertama menghadirkan Rektor IAIN Manado Bapak Delmus P. Salim,Ph.D dan Dekan FUAD Bapak Dr.Edi Gunawan,M.HI sebagai pemateri yang membahas tentang “Khasanah Islam Nusantara sebagai Sarana Perekat Penguatan Sosial Masyarakat” dan “Khasanah Hukum Islam Sebagai Jejaring Memperkuat Kebhinekaan Di Nusantara”. Dalam paparannya, Bapak Delmu P. Salim menyampaikan bahwa Islam Nusantara merupakan bentuk relasi antara Agama dan budaya yang saling menghargai dan menguatkan interaksi sosial kemasyarakatan di Indonesia. Sementara itu, Bapak Edi Gunawan juga menyampaikan bahwa diperlukan rekonstruksi ilmu Fiqih (Fikih Kebhinekaan) agar dapat memahami masalah-masalah kebhinekaan di Indonesia.

Pada sesi ke dua menghadirkan Bapak Alex Ulaen sebagai perwakilan dan BPNB Sulut, Perwakilan BPNB Kalbar, Perwakilan BPNB Kepri dan Perwakilan BPNB Sumbar. Pada sesi ini, fokus bahasan terkait dengan “Revitaslisasi kondisi kehidupan Sosial-Budaya yang harmonis dengan merawat dan mengelola keharmonisan dalam kehidupan yang beragam dari tingkat lokal, regoinal dan nasional”. Dilanjutkan sesi ke tiga dengan menghadirkan perwakilan BPNB Aceh, perwakilan BPNB Bali dan perwakilan BPNB Jabar. Pada sesi ini fokus bahasannya terkiat dengan “Revitalisasi nilai dan filosofi masyarakat dalam upaya menangkal segala bentuk manipulasi yang mempertentangkan dan menajamkan realitas perbedaan yang ada”. kemudai pada sesi ke empat yang merupakan sesi terakhir, menghadirkan 2 perwakilan, yaitu BPNB Maluku dan BPNB DIY. Sesi ke empat membahas tentang “Pengembangan lingkungan fisik dan sosial yang sesuai dengan nafas budaya dan karakter kehidupan masyarakat berbangsa untuk mendukung sikap dan perilaku toleran, terbuka, inklusif dan nir-kekerasan yang akhir-akhir ini tergerus oleh berbagai kepentingan dan permainan politik identitas”.

Kegiatan dialog ini ditutup pada minggu malam dengan di hadiri oleh seluruh peserta. Acara penutupan di isi dengan berbagai penampilan seni budaya Indonesia oleh mahasiswa dan beberapa perwakilan dari BPNB.